Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berinteraksi dengan zat yang bersifat asam dan basa, meskipun kita mungkin tidak menyadarinya. Jus jeruk, cuka, dan minuman bersoda adalah contoh zat yang bersifat asam, sementara sabun, pasta gigi, dan baking soda merupakan contoh zat yang bersifat basa. Namun, apa yang membuat suatu zat disebut asam atau basa? Bagaimana kita bisa mengenali dan membedakan keduanya?
Secara ilmiah, asam dan basa memiliki sifat unik yang dapat dijelaskan melalui tiga teori utama:
Teori Arrhenius menjelaskan donor ion hidrogen (H⁺) pada asam dan donor ion hidroksida (OH⁻) pada basa
Teori Bronsted-Lowry menjelaskan donor dan akseptor proton (H⁺)
Teori Lewis menjelaskan donor dan akseptor pasangan elektron
Selain teori-teori tersebut, asam dan basa memiliki ciri khas yang dapat diamati, seperti:
Rasa menunjukkan bahwa asam terasa masam, basa terasa pahit.
Tekstur menunjukkan bahwa asam terasa tidak licin, basa terasa licin seperti sabun.
Konduktivitas listrik yakni dapat menghantarkan listrik jika larut dalam air.
Reaksi dengan logam pada asam akan menghasilkan gas hidrogen (H₂).
Reaksi dengan indikator dapat mengubah warna indikator pH:
Lakmus merah tetap merah dalam asam, tetapi berubah menjadi biru dalam basa.
Fenolftalein tetap tidak berwarna dalam asam, tetapi berubah menjadi merah muda dalam basa
pH tubuh harus tetap seimbang agar organ bekerja optimal
Asam dan basa digunakan dalam pembuatan obat, makanan, dan bahan kimia rumah tangga
Hujan asam dapat merusak ekosistem, sedangkan basa dapat digunakan untuk menetralisir limbah
Sekarang, saatnya kita mengeksplorasi lebih lanjut. Dalam pembelajaran ini, kita tidak hanya memahami sifat asam dan basa secara teori, tetapi juga menerapkannya dengan cara berpikir yang sistematis dan logis melalui Computational Thinking (CT) pada website ini.